Tokoh Muda Nabire Sebut Pernyataan Aibon Kogoya Keliru dan Provokatif Bagi Masyarakat OAP

- Penulis

Jumat, 13 Maret 2026 - 17:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nabire – Upaya memecah belah persatuan masyarakat adat melalui batasan geografis yang dilontarkan Panglima TPNPB-OPM Aibon Kogoya kini mendapat perlawanan sengit dari generasi muda Nabire, Papua Tengah.

Narasi yang mencoba memisahkan hak kelola alam antara warga pesisir dan pegunungan dianggap sebagai langkah mundur yang mengancam stabilitas harmoni sosial yang telah terjaga selama berabad-abad.

Tokoh Muda Kabupaten Nabire, Samuel Sauwyar, menyatakan keberatan atas pernyataan Aibon Kogoya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Diketahui Aibon sebelumnya mengeluarkan peringatan keras yang melarang masyarakat pesisir masuk ke kawasan hutan untuk mencari emas maupun kayu gaharu.

Ia menebar ancaman akan adanya konsekuensi buruk bagi warga pantai yang beraktivitas di hutan.

“Narasi Aibon Kogoya ini bersifat diskriminatif dan berpotensi merusak ikatan persaudaraan sesama Orang Asli Papua (OAP),” tegas Samuel, Kamis (12/3/2026).

Samuel menegaskan bahwa identitas Papua bersifat tunggal dan tidak boleh dipisahkan berdasarkan letak tempat tinggal.

Baca Juga:  Tokoh Pemuda Papua Pegunungan Tekankan Pentingnya Menjaga Kerukunan Sosial

Sejarah mencatat bahwa masyarakat pantai dan pegunungan telah hidup berdampingan secara harmonis sejak zaman nenek moyang.

Hubungan fungsional melalui sistem barter dan perdagangan tradisional membuktikan bahwa ketergantungan antarwilayah adat adalah kekuatan utama Papua.

“Nah, nilai gotong royong inilah yang merupakan warisan leluhur yang harus dilindungi dari segala bentuk upaya polarisasi kelompok tertentu,” sebut Samuel.

Perbedaan mata pencaharian antara nelayan dan masyarakat hutan merupakan kekayaan budaya, bukan alasan untuk menciptakan sekat wilayah kekuasaan.

Larangan bagi warga pesisir untuk mengambil hasil hutan dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap hak asasi manusia dan hak ulayat yang inklusif.

Samuel mengingatkan bahwa setiap individu yang berpijak di tanah Papua memiliki tanggung jawab moral yang sama untuk menjaga kedamaian dan ketertiban.(rd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel konteksnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Keluarga Korban Memohon Kepastian Nasib 9 Perempuan Jila yang Diculik OTK
Toname Mom Ajak Masyarakat Jaga Keamanan, Kedamaian dan Kelestarian Lingkungan
Kirenius: Keamanan dan Pembangunan Harus Berjalan Beriringan di Puncak Jaya
Max Ohee Ajak Generasi Muda Papua Pahami Sejarah dan Jaga NKRI
Jhon Kogoya Serukan Masyarakat Nabire Bijak Sikapi Isu Jelang HUT RI ke-81
Laskar Merah Putih Provinsi Papua Ajak Masyarakat Tak Terprovokasi Dengan Rencana Aksi Tanggal 15 Agustus di Kota Jayapura
Tokoh Pemuda Ilaga Utara Imbau Warga Puncak Hormati Hari Kemerdekaan RI
Derek Alom Dorong Para Tokoh Bersatu Jaga Keamanan Jelang HUT RI Ke-81
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 21:21 WIB

Keluarga Korban Memohon Kepastian Nasib 9 Perempuan Jila yang Diculik OTK

Senin, 24 Agustus 2026 - 16:37 WIB

Toname Mom Ajak Masyarakat Jaga Keamanan, Kedamaian dan Kelestarian Lingkungan

Senin, 24 Agustus 2026 - 16:36 WIB

Kirenius: Keamanan dan Pembangunan Harus Berjalan Beriringan di Puncak Jaya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 16:25 WIB

Max Ohee Ajak Generasi Muda Papua Pahami Sejarah dan Jaga NKRI

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 20:03 WIB

Jhon Kogoya Serukan Masyarakat Nabire Bijak Sikapi Isu Jelang HUT RI ke-81

Berita Terbaru